KompasTalk.com-Polda Sumut tengah mendalami kasus dugaan korupsi dana bagi hasil (DBH) pajak bumi dan bangunan (PBB) yang diduga melibatkan kepala daerah.

Terkait perkembangan kasus dugaan korupsi, Direktur Reskrimsus Polda Sumut Kombes Pol Rony Samtana menyatakan, pihaknya tengah mengintensifkan proses penyidikan kasus dugaan korupsi DBH PBB yang melibatkan kepala daerah.

“Kita sedang memantapkan proses penyidikan untuk kepala daerah Bupati Labura dan Labusel,” ujar Rony kepada wartawan, Jumat (16/10/2020).

Lanjutnya, kasus dugaan korupsi DBH PBB Kabupaten Labuhan Batu Utara (Labura) dan Labuhanbatu Batu Selatan (Labusel) sudah tahap penyidikan.

Dalam kasus ini, pihaknya juga sudah menetapkan sejumlah tersangka.

“Penanganan kasusnya hingga kini masih berjalan. Kita sedang memantapkan proses penyidikan untuk status tersangka,” ungkapnya.

Seperti yang diberitakan sebelumnya, terkait dugaan kasus korupsi DBH PBB Labuhanbatu Utara (Labura) dan Labuhanbatu Selatan (Labusel), Polda Sumut telah menetapkan lima orang tersangka.

Adapun inisial kelimanya yakni, MH selaku Kepala Dinas Pendapatan Kabupaten Labusel dan SL selaku Kabid Pendapatan tahun 2016.

Sedangkan untuk di Kabupaten Labura, masing-masing AFL, Kepala DPKD Labura tahun 2013, FID Kepala DPKD tahun 2014, dan AP Kabid Pendapatan tahun 2013, 2014, dan 2015.

Rony mengatakan, pihaknya telah mendapatkan data atas kerugian negara yang disebabkan penyelewengan DBH PBB Labura dan Labusel sehingga dilakukan penetapan tersangka.

“Sudah kita temukan kerugian negara karena kasus itu. Doakan saja semoga kasus ini cepat selesai,” bebernya.

Terkait dugaan kasus korupsi ini, Polda Sumut telah memeriksa sebanyak 22 orang.

Masing-masing saksi tersebut untuk Kabupaten Labura sebanyak 12 orang, dan Kabupaten Labusel sebanyak 10 orang.

Saat disinggung apakah kasus ini dapat mengarah ke Bupati Labura dan Labusel, polisi berpangkat melati tiga di pundaknya ini tidak menampiknya.

Dia menegaskan, secara profesional pihaknya akan melakukan pemeriksaan dan pengumpulan barang bukti lanjut terlebih dahulu.

“Jadi tergantung dari perkembangan hasil penyelidikan,” pungkasnya.